RMOLSUMSEL

Home     


FADLI ZON: AKSI 55 BUKAN BENTUK INTERVENSI HUKUM
JUM'AT, 05 MEI 2017 , 15:24:00 WIB

FADLI ZON/NET
  

RMOL. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menegaskan bahwa aksi demonstrasi merupakan hak konstitusional bagi seluruh warga negara Indonesia.

"Yang penting berjalan dengan baik tertib damai," katanya kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (5/4).

Hal itu diungkakannya mengomentari Aksi Simpatik 55 yang berlangsung hari ini di Masjid Istiqlal dan Mahkamah Agung untuk meminta tuntutan maksimal terhadap terdakwa kasus penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Fadli berharap agar aspirasi para pengunjuk rasa dapat didengar oleh para penegak hukum. Para penegak hukum katanya harus menjalankan hukum dengan mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat.

"Karena maraknya demo dan unjukrasa ini pasti ada sebabnya," imbuh politisi Partai Gerindra ini.

Fadli tak setuju dengan pendapat sebagian pihak yang menilai bahwa aksi unjuk rasa hari ini adalah untuk mengintervensi hukum.

"Loh ini jangan terbolak-balik. Justru yang kemarin mengintervensi siapa, seperti sebelum Pilkada, tiba-tiba ditunda penuntutannya, itu namanya tidak wajar. Nah tapi kalau misalnya aksi ini justru kan menyalurkan aspirasi masyarakat, menunjukan rasa ketidakadilan ini bukan intervensi. Jadi saya kira terminologi-terminologi itu harus diperbaiki," tegasnya.

Demo kali ini juga menurutnya tidak ada hubungannya dengan urusan kebhinekaan. Pasalnya menurut Fadli, persoalan kebhinekaan di Indonesia sudah selesai sejak 1928 lalu.

"89 tahun dia terlambat untuk menyadari bahwa kebhinekaan ini sudah selesai. Sejak sumpah pemuda. Jadi bodoh sekali itu yang mempersoalkan kebhinekaan kita. Itu udah pasti, udah niscaya. Kita tinggal menjaga aja. Saya kira umat Islam di Indonesia juga paling toleran sedunia terhadap persoalan kebhinekaan kita bisa berdebat juga scara ilmiah juga. Jadi jangan menyudutkan-nyudutkan umat Islam bahwa umat Islam yang memecah belah persatuan. Jadi para penguasa ini termasuk penegak hukum jangan salah melakukam satu assessment terhadap situasi dan keadaan yang justru tidak menyelesaikan persoalan," pungkasnya. [rus]


Baca juga:
ARAB SAUDI JADI NEGARA PERTAMA YANG AKAN DIKUNJUNGI TRUMP
REBUT 15 KURSI KULIAH DI ITS BEKASI
PBB TEGASKAN PILIHAN CAWAKO PALEMBANG BERDASARKAN HASIL SURVEI
JUALAN SABU, JONI ISKANDAR BERGULAT DENGAN POLISI SAAT DITANGKAP
PEMERINTAH DIMINTA GERAK CEPAT, PETANI BERSABAR


Komentar Pembaca






Berita Populer

Rakerda PAN Kacau, Herman Deru 'Balik Belakang'
Ketua PAN Didesak Mundur, Eko: Legowolah, Itu Lebih Terhormat!
Bertekad Menang Besar Pilkada 2018, Demokrat Ajukan Nama-nama Beken