RMOLSUMSEL

Home     


PEGAWAI DI KANTOR INI RATA-RATA PEREMPUAN, SENGAJA DIPASANG UNTUK..
RABU, 19 APRIL 2017 , 12:44:00 WIB
LAPORAN: MUHAMMAD WIWIN

PEGAWAI WANITA DISDUKCAPIL OKU/RMOLSUMSEL
  

RMOL. Dillihat dari luar, kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ini terlihat biasa saja. Sama seperti kantor SKPD lainnya.

Namun dari pantauan di lapangan, pegawai di kantor ini berbeda dari kantor-kantor Aparatur Sipil Negara (ASN) lainya. Ya, rata-rata pekerja di dalamnya merupakan kaum hawa. Lebih dari itu kantor berlantai dua ini bebas dari asap rokok.

Kantor ini sengaja mempekerjakan perempuan di kantornya, mengingat kantor Disdukcapil merupakan kantor pelayanan umum. Artinya bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Para pegawai disana juga diwajibkan berpakaian rapi, bahkan berlaku sopan dan sabar terhadap masyarakat yang berurusan di Kantor tersebut.

Ajakan ini nampaknya dipatuhi oleh para pekerja. Meski mengenakan seragan PNS, namun mereka tetap terlihat modis dan elok dipandang.

Saat berkunjung ke Kantor tersebut para pekerja mengenakan seragam, warna kuning kaki, khas PNS. Rata-rata mereka memakai jilbab.

Kepala Bidang (Kabid) Pencatatan Sipil, Helnasari SH saat dibincangi di ruang kerjanya mengakui jika di kantor ia bekerja rata-rata perempuan. Lebih dari 70 persennya.

Sebagai contoh, di bidang Pencatatan Sipil yang ia bawahi. Dari jumlah pekerja, ada lebih kurang 16 orang rata-rata perempuan. Sebagai perbandingan 14 perempuan dan 2 orang laki-laki.

“Untuk pelayanan ke masyarakat kita tempatkan pekerja wanita. Ini kan kantor layanan, nah layanan kepada masyarakat harus diberikan secara maksimal. Di bidang kerja lain juga sama. Rata-rata banyak pekerja perempuannya,” jelasnya, kepada RMOLSumsel, Rabu (19/4).

Banyaknya pekerja perempuan yang ditempatkan di Kantor Disdukcapil ini, kata dia, berawal dari era Plt Bupati H Maulan Aklil yang melakukan sidak di Disdukcapil.

Saat itu, Plt Bupati menyarankan agar petugas pelayanan ditempatkan atau ditempati wanita untuk melayani langsung masyarakat. Serta wajib hukumnya bersifat ramah dan sopan dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

“Alhamduillah hal ini kami lakukan dan masih berjalan sampai saat ini,” ucapnya.

Selain itu, ia mengatakan di bagian kerjanya rata-rata beragama muslim dan memakai hijab. Untuk itu, agar terlihat rapi dan seragam, mereka membuat aturan tersendiri. Khususnya dalam pemakaian jilbab.

“Jilbab yang kami pilih dan menjadi andalan yakni berwarna merah hati. Penampilan dan tatakrama harus baik, mengingat kita ini merupakan kantor pelayanan masyarakat, dan bersentuan langsung ke masyarakat,” ucapnya.

Sementara saat disinggung masih adanya pekerja yang mengenakan sandal jepit, kata Helnasari SH, sebenarnya itu tidak diperbolehkan. Namun mengingat rata-rata pekerja menggunakan sepatu hak tinggi dalam bekerja sementara mereka harus mondar mandir membawa berkas dalam melayani masyarakat, jadi diberi kelonggaran untuk menggunakan sandal.

“Tetapi ini tidak diperbolehkan dalam lingkup lebih luas. Mereka hanya boleh memakai sandal di lokasi-lokasi dan momen tertentu. Kalau keluar ruangan kerja harus menggunakan sepatu. Jadi terbatas. Saat mereka sibuk mondar mandir mengurus berkas di ruang saja yang boleh. Kita juga sudah menyiapkan lemari khusus untuk sepatu dan benda benda lainya, sehingga kerapihan dan kebersihan kantor tetap terjaga,” jelasnya.[sri]


Baca juga:
ESELON HARUS PAHAM SURAT MENYURAT, JANGAN MENJIPLAK!
LELANG JABATAN DI OKU SEPI PEMINAT
SAT POL PP DAPAT LAMPU HIJAU TERTIBKAN RANDIS PEJABAT
RESMI PENSIUN, 55 ASN DIMINTA TETAP MEMAJUKAN PAGARALAM
SAMPAH MENJADI PENYEBAB UTAMA BANJIR KEMARIN


Komentar Pembaca

Melonjak 18 Kali, Kapitalisasi Pasar Saham BBRI Tembus Rp 188,7 Triliun






Berita Populer

Kader Demokrat Masuk Kandang Banteng
Wow! DPP AMPI Dukung Penuh Lury Maju ke Pilkada Palembang
Belum Ada Keputusan Partai Terkait Paslon Ridho-Fikri, Pengamat : Tes Pasar