RMOLSUMSEL

Home     


RUMAH PERADABAN MENYASAR PELAJAR-MAHASISWA
IRENE: MEREKA HARUS TAHU BAHWA DULUNYA..
SENIN, 17 APRIL 2017 , 10:18:00 WIB
LAPORAN: MUHAMMAD WIWIN

KADIS BUDPAR SUMSEL, IRENE CAMELYN SINAGA/RMOLSUMSL/M WIWIN
  

RMOL. Temuan atau peninggalan-peninggalan yang ada di Gua Harimau Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, membikin mata dunia terbelalak. Banyak peneliti yang tertarik untuk meneliti temuan kerangka manusia purba disana.

Namun, tak semua peneliti dari belahan bumi lain mendapat izin. Hanya peneliti dari Arkeologi Nasional (Arkenas) dan peneliti asing yang diizinkan saja untuk melakukannya.

Karena itu, sangat patut bagi masyarakat OKU untuk memelihara dan melestarikan peninggalan ini, jika dilihat dari pentingnya nilai temuan-temuan itu.

“Kita tidak pernah menyangka, bahwa dulunya dari Gua Harimau Baturaja ini, ada dua ras yang harus diketahui dunia. Ya, yang ada disini bukan hanya sejarah bagi daerah ini saja atau Sumsel saja, tapi sejarah dunia ada disini,” ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, dalam lawatannya ke Bumi Sebimbing Sekundang.

Pemerintah pusat bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi, beber Irene, telah menetapkan Gua Harimau sebagai rumah peradaban.

“Rumah peradaban itu kerjasama antara pemerintah pusat dan provinsi. Tahun ini ada dua lokasi yakni di gua harimau dan satu lagi di TPKS pada Juli nanti,” ungkapnya.

Lalu apa sih rumah peradaban itu? Irene mengulas sedikit, bahwa rumah peradaban itu adalah membumikan hasil penelitian para Arkeolog. “Karena temuan di daerah ini (OKU,red), bukan saja menasional, tapi mendunia,” imbuhnya.

Kenapa harus dibumikan? Dalam konsep pariwisata, menurut Irene, juga dikenal yang namanya penta helix. Disana ada keterikatan atau sinergi, antara Pemerintah, Akademisi, Komunitas, Media dan Industri, yang mana mereka sama-sama harus menaikkan nilai rumah peradaban itu.

Perihal kenapa pelajar dan mahasiswa yang menjadi jangkauan pertama dalam sosialisasi rumah peradaban itu, kata dia, dimaksudkan agar tidak ada generasi penerus (pelajar dan mahasiswa) terlepas dari pengetahuan sejarah ini.

“Mereka juga harus tahu sejarah peradabannya. Apalagi dari temuan yang ada disini diketahui, bahwa dari dulu ras yang berbeda sudah hidup berdampingan. Artinya ada rasa kebersamaan disana. Nah ini yang harus dipupuk (rasa kebangsaan, kebersamaan, nasionalisme). Dan sekarang pun kita berbeda, tapi masih bisa duduk bersama,” paparnya.     

Selanjutnya, sambung dia, ketika mereka menyadari betapa pentingnya nilai-nilai itu, maka selanjutnya mereka akan mencintai, memelihara dan melestarikan cagar budaya yang ada ini.

“Ketika nilai itu sudah dianggap penting oleh masyarakat, maka akan timbul melek budayanya. Melek cagar budayanya. Pemerintah juga akan mendorong menaikkan nilainya. Karena ini bukan hanya aset budaya, tapi juga aset pariwisata,” imbuhnya.

Karena itu pula, ia berharap Pemerintah daerah melalui intansi terkait dapat fokus mengelola aset yang ada di Gua Harimau dan sekitarnya.

“Ingat, tidak semua daerah mempunyai kekayaan seperti di Baturaja. Peninggalan disini luar biasa. Kenapa kita tidak satu konsep. Pemerintah pusat sudah membangun museum, bagaimana pemerintah provinsi, kabupaten/ kota menyamakan satu fokus dan sama-sama kita gali, cari peluang dan potensi budaya di Gua Harimau dan Gua Putri ini,” tandasnya.[rik]


Baca juga:
DINKES TEMUKAN KASUS TBC MENINGKAT DI PALEMBANG
WABUP OKU KOLEKSI BENDA LAWAS USIA BELASAN TAHUN
SISKA MARLENI: HARUS GO INTERNASIONAL
MENGENAL LEBIH DEKAT SOSOK H MULARIS DJAHRI
KINERJA PEMERINTAHAN DIKLAIM TERBAIK SE SUMSEL


Komentar Pembaca






Berita Populer

Tampil Malam Hari, Peserta Karnaval Prabumulih Kecewa
Sedekah Bumi dan Wayang Kulit Harus Terus Dibudayakan
Dapat Hidayah, 2 Pemuda Ini Bersyahadat di Hadapan Wakil Bupati