RMOLSUMSEL

Home     


MEMPERSIAPKAN KHAIRA UMMAH
UMAT YANG INKLUSIF
OLEH: NASARUDDIN UMAR
SABTU, 15 APRIL 2017 , 13:37:00 WIB

PROF NASARUDDIN UMAR
  

SEJAK awal pembinaan umat selalu diarahkan men­jadi umat inklusif. Ayat-ayat dan hadis yang berbicara tentang pembentukan ko­munitas selalu menekank­an inklusifisme dalam arti penciptaan kondisi yang kondusif untuk terwujudnya ketenteraman, kedamaian, keadilan, dan kebersamaan. Nabi sendiri tidak segan-segan berbeda pendapat dengan para sahabatnya jika ada kondisi bisa merusak ke­stabilan dan ketenangan masyarakat. Peneta­pan Piagam Madinah, Perjanjian Hudaibiyah, dan konsep hijrah, semuanya bisa menjadi buk­ti inklusifitas Nabi di dalam mewujudkan khaira ummah.

Para Walisongo rupanya sangat terinspirasi sikap dan kebijakan Nabi di dalam mengem­bangkan dakwah Islamnya di Indonesia. Islam Nusantara lebih akrab dengan Islam inklusif, sebuah pemahaman yang selalu berusaha me­nampilkan Islam sebagai ajaran agama yang penuh dengan kasih sayang (rahmah), tolerans (tasamuh), keadilan ('adalah), menekankan aspek pertemuan, titik temu, dan perjumpaan (kalimah sawa'); bukannya menampilakan kek­erasan (tasyaddud) dan terorisme (irhab), dan bentuk kekerasan lainnya.

Inklusifisme umat bisa terlihat dalam berba­gai bentuk, antara lain keramahan warga terh­adap lingkungan alam dan lingkungan sosial. Islam yang bisa tegak di atas atau di samping nilai-nilai lokal-kultural, Islam yang memberi ru­ang terhadap kearifan lokal. Bahkan Islam yang mampu menjadi wadah peleburan (melting pot) terhadap pluralitas nilai dan norma yang hidup di dalam masyarakat. Kehadiran Islam tidak mesti menyingkirkan nilai-nilai lokal setempat. Meskip­un Islam sarat dengan nilai-nilai universal tetapi konsep universalitasnya tidak tertutup, melainkan terbuka. Di dalamnya tidak ada orang yang mera­sa terancam, semuanya merasa tenang.

Para pengembang Islam di wilayah Nusantara mencontoh Nabi di dalam mengembangkan aja­ran Islam di tanah Arab, khususnya di Madinah. Nabi Muhammad Saw mambangun peradaban Islam bukan memulai dari nol tetapi bagaimana melestarikan yang sudah baik dan mengembang­kan yang masih sederhana, dan mengkreasikan sesuatu yang belum ada. Ini dipertegas dalam hadis Nabi: Innama bu'itstu li utammima makarim al-akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk me­nyempurnakan akhlak mumulia). Tamma berarti menyempurnakan yang sudah ada dan akhlaq ialah sebuah kreasi positif. Nilai-nilai lokal tidak perlu terancam dengan kehadiran Islam.

Ketegangan konseptual terjadi mana kala nilai-nilia universal dipahami secara kaku di satu sisi, sementara di sisi lain berhadapan dengan fanatisme buta penganut nilai-nilai lokal. Pemandangan seperti ini sering terja­di tetapi biasanya dapat diselesaikan dengan kearifan tokoh penganjur kedua belah pihak. Titik temu atau jalan tengah biasanya diambil melalui persepakatan adat-istiadat setempat. Dalam Islam hal ini dimungkinkan karena pen­erapan nilai-nilai Islam tidak serta-merta harus dilakukan sekaligus. Tuhan Yang Maha Kuasa pun memberi waktu 23 tahun untuk turunnya keseluruhan ayat Al-Qur'an. Penerapan nilai-nilai Islam dikenal prinsip tadarruj, yaitu pen­erapan nilai-nilai secara berangsur, tahap demi tahap. Selain itu juga dikenal dengan sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada saat­nya menjelma menjadi nilai-nilai yang utuh. Keutuhan nilai-nilai universalitas Islam dicapai melali sinergi antara nilai-nilai lokal dengan aja­ran dasar Islam. Dengan demikian, Islam dira­sakan sebagai kelanjutan sebuah tradisi yang sudah mapan di dalam masyarakat. Bukannya menghadirkan sesuatu yang serba baru melalui penyingkiran nilai-nilai lokal.  [rmolco]


Komentar Pembaca

Melonjak 18 Kali, Kapitalisasi Pasar Saham BBRI Tembus Rp 188,7 Triliun






Berita Populer

Kartini Masa Kini Pintar, Tangguh Dan Tegar
Alhamdulillah, Muslim Berkembang Baik di Kiev
Muhammadiyah Puasa 29 Hari Tahun Ini, 27 Mei-25 Juni 2017