RMOLSUMSEL

Home     


MENGUKUHKAN DASAR TOLERANSI
OLEH: NASARUDDIN UMAR
RABU, 04 JANUARI 2017 , 08:45:00 WIB

PROF NASARUDDIN UMAR/NET
  

MENGUKUHKAN dasar tol­eransi merupakan agenda pertama bagi siapapun yang hendak berbicara tentang toleransi. Dasr toleransi di sini ialah dasar teologi dan budaya luhur bangsa. Ba­gaimanapun juga masalah toleransi akan selalu aktual dibocarakan dinegara het­erogen seperti Indonesia. Toleransi bagi kelas menengah atas secara konseptual dianggap sudah selesai. Akan tetapi tidak demikian hal­nya bagi kelompok lain, khususnya kelompok yang mendapatkan pengaruh kuat dari kekua­tan ideologi tertentu. Karena itu, penguatan dasar teologi dan budaya toleransi perlu terus dikembangkan.

Di dalam Islam sendiri masalah toleransi su­dah selesai. Islam tidak pernah melarang umat­nya berbuat baik kepada orang-orang non-mus­lim. Sebaliknya Islam mengharuskan umatnya memuliakan siapapun yang merasa anak-cu­cu Adam, apapun jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaannya, sebagaimana ditegas­kan di dalam Al-Qur'an: Dan sesungguhnya te­lah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al- Isra’/17:70). Dalam ayat lain ditegaskan: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Al­lah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusir­mu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa men­jadikan mereka sebagai kawan, maka mer­eka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. al- Mumtahanah/60:8-9). Ayat ini sangat popular, terutama pasca pengutipan Presiden Obama di Cairo University beberapa tahun lalu.

Sejak awal Islam telah menyerukan umat­nya untuk memberikan perlindungan terhadap oaring-orang yang lemah tanpa membedakan agamanya, sebagaimana ditegaskan dalam Al- Qur'an: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat menden­gar (dan merenungkan) firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (Q.S. al-Taubah/9:6). Ayat lain juga menegaskan: Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (Q.S. al-Syu'ara/26:114). Tradisi usir-mengusir bukanlah etika sosial yang berbudaya. Pasti ko­munitas yang diusir berusaha mencari kekuatan dan kesempatan untuk membalas dan mene­bus kekecewaannya. Akibatnya power struggle senantiasa terbayang di hadapan kita.

Ketika kita menyampaikan dakwah di da­lam masyarakat, perinsip utama toleransi per­lu selalu diingat. Kita perlu sadar bahwa kek­erasan atas nama apapun dan dengan tujuan apapun tidak ada tempatnya di dalam Islam. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Is­lam). (Q.S. al-Baqarah/2:256). Jika sudah dis­ampaikan lantas belum amu mengikuti ajakan itu maka kita diminta menyerahkan kepada Allah Swt, sebagaimana dijelaskan di dalam ayat: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepa­da orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al- Qashash/28:56). Pluralitas masyarakat sudah merupakan ketetapan Allah (sunnatullah), se­bagaimana dijelaskan di dalam ayat: Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi ini beriman. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya se­luruh mereka menjadi orang-orang yang beri­man? (Q.S. Yunus/10:99). ***


Komentar Pembaca

Melonjak 18 Kali, Kapitalisasi Pasar Saham BBRI Tembus Rp 188,7 Triliun






Berita Populer

Tak Banyak Orang Tahu 'Beauty and The Beast' Adalah Kisah Nyata
Hirup Udara PALI, Kemendikbud Joging Keliling Pendopo
Hebat, Anak SD Gali Legenda Bumi Serepat Serasan Pakai Ini..