RMOLSUMSEL

Home     


MENGENAL DAN MENGEMBANGKAN DESTINASI WISATA SUMSEL
RABU, 30 NOVEMBER 2016 , 14:26:00 WIB

KEPALA DINAS KEBUDAYAANDAN PARIWISATA (DISBUDPAR) SUMSEL, IRENE CAMELYN SINAGA
  

RMOL. Terpilihnya Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai tuan rumah Asian Games 2018 bersama DKI Jakarta, yang dihadiri oleh sekitar 45 negara. Baik itu negara berkembang hingga negara maju, ribuan simpatisan diperkirakan bakal tumpah ruah di Indonesia, tak terkecuali di Kota Palembang.

Adanya moment atau event berskala internasional tersebut, menjadi peluang besar memperkenalkan pariwisata dan kebudayaan asli daerah Sumatera Selatan. Dari 17 kabupaten/kota, dan berbagai destinasi wisata dan iko nmasing-masing. Mulai dari pemandangan alam, hingga kebudayaan.

Dua tahun sebelum dimulainya Asian Games 2018, berbagai upaya terus dilakukan oleh Kebudayaandan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel. Untuk memperkenalkan dan mengembangkan destinasi, baik itu dari segi teori ataupun aplikasi di lapangan. Hal tersebut terus digiatkan selama 1 tahun belakangan ini.

Kepala Dinas Kebudayaandan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga mengatakan, ada beberapa ketentuan dari pariwisata yang harus dilaksanakan, baik itu dari Kementerian Pariwisata seperti yang diajarkan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam pengembangan pariwisata ada empat unsur penting yang tidak boleh dikembangkan satu persatu. Yakni destinasi, industri, SDM atau kelembagaan, dan promosi.

Untuk masing-masing unsur tersebut, ternyata juga banyak hal yang harus didetailkan lagi. Misalkan destinasi, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama jalan, fasilitas pelayanan publik. Kemudian atraksi yang dilakukan di destinasi.

"Kami tidak hanya melihat pemandangan alam atau sejarah. Tiga hal itu yang sangat menentukan suatu destinasi," tegasnya.

Ada cara lain lagi yang dapat dilakukan dalam pengembangan dan memperkenalkan destinasipariwisata, yaitu destinasi yang semakin berbeda atau dalam pariwisata disebut sebagai diferensiasi. Maka, destinasi itu akan lebih cepat atau menonjol dan lebih akan dikenal untuk destinasi wisata.

Untuk promosi sendiri, Irene menjelaskan, pihaknya mempergunakan tiga hal, yaitu Branding, Advertaisin gdan Selling. Untuk Branding, mereka berupaya menetapkan destinasi yang ada. Advertaising (periklanan), terus dilakukan baik di dalam maupun luar negeri. Kemudian selling (penjualan), dengan terus berupaya menggaet pelaku industri melalui penjualan paket-paket wisata.

"Industri itu sendiri ada hotel, restoran, agen (travel/biro perjalanan/wisata), bagaimana dukungannya. Dasar itu dulu yang harus diketuahui dalam pengembangan destinasi wisata di Sumsel," tegasnya.

Saat berlangsungnya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, lima elemen penta helix merupakan penopang industri pariwisata nasional. Kelimanya adala hak ademisi, industri pariwisata, pemerintah, komunitas, dan media.

Kemudian, Disbudpar Sumsel mulai mencoba melibatkan unsur-unsur pentahelix tersebut.

Kelima unsur pentahelix, menurut Irene, mempunyai peran penting dalam pengembangan dan kegiatan promosi pariwisata di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Kelima unsur tersebut, harus bersama-sama, bersinergi, bekerjasama membangun dan mengembangkan pariwisata.

"Konsep ini diusung tahun 2016. Untuk lebih memaksimalkan dari mulai perencanaan, pelaksanaan, dan kemudian evaluasi," terangnya.

Untuk pengembangan destinasi, upaya yang dilakukan Disbupar Sumsel tidak perlu diragukan lagi. Sebagai upaya tuan rumah Asian Games 2018 mempersiapkan destinasi wisata di Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang.

"Kami sudah mengembangkan destinasi dan sudah masuk dalam Ripparprov," katanya.

Ripparov merupakan rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi. Dengan adanya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Apalagi, Sumatera Selatan memiliki sekitar 23 pulau kecil dan 10 pulau diantaranya berpenduduk.

Adapun 10 pulau yang berpenduduk itu yakni Pulau Borang, Pulau Keramat, Pulau Salah Nama, Pulau Singgris, Pulau Delta Upang, Pulau Delta Air Saleh, Pulau Delta Air Sugihan, Pulau Delta Telang, Pulau Kemaro dan Pulau Kerto. Pada umumnya, penduduk berprofesi sebagai nelayan dan pembudidaya ikan.

Wilayah pesisir sangat strategis dalam pengembangan pariwisata. Karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang berkesinambungan serta terdapat potensi sumber daya alam (SDA).

Selain itu, dilakukan pengembangan destinasi di daerah Sungai Musi yang merupakan ikon Provinsi Sumatera Selatan, dan mengembangkan atau membuat lima Detail Engginering Desain (DED) yakni pengembangan daerah wisata di sekitar Sungai Musi, dan yang sudah masuk pembangunan fisik yaitu Kampung Al Munawar.

Selanjutnya, menata amenitas atau ketersediaan layanan publik seperti wc, Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Beberapa sudah dilakukan, di Bukit Siguntang, kampung Al Munawar, dan tempat lainnya di Kota Palembang.

"Adanya keterbatasan dana, kami menatanya satu-persatu," ungkapnya.

Kemudianjuga, menyiapkan atraksi budaya disetiap destinasi. Karena atraksi kebudayaan tidak bisa ditinggalkan dalam pariwisata.

"Budaya menjadi atraksi mempunyai peran yang sangat kuat dalam pengembangan destinasi wisata di Sumsel," tegasnya.

Dari sisi kelembagaan atau penyiapan Sumber Daya Manusia Irene menjelaskan, Pemprov Sumsel dan Kementerian Pariwisata sudah mendirikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang, yang saat ini sudah menerima angkatan pertama sebanyak 200 mahasiswa. Dimana mutu pendidikan sangat diperhatikan, dan mempunyai program pendidikan yang sangatluarbiasa.

"Diharapkan (lulusan Poltekpar) dapat mewarnai pariwisata di Sumsel. Tahun depan, kami sudah membuka untuk angkatan kedua. Mudah-mudahan tahun 2017 kami sudah mulai membangun gedung (kuliah) poltekpar, dengan menggunakan dana APBN 2017, dari Kementerian Pariwisata," terangnya.

Untuk bidang industri sendiri, Irene mengatakan, pihaknya sudah mulai mengaktifka kegiatan promosi di dalam negeri dan keluar negeri. Mereka melibatkan industri dalam kegiatan promosi ataupun event seperti Mata Fair di Asia Tenggara, Asia Pasifik, Cina, danE ropa serta mengikuti Award Travel Market di London, Inggris. Semua kegiatan ini bertujuan agar pasar-pasar yang ada di luar negeri bisa menyesuaikan dengan destinasi apa saja yang ada di Sumsel.

Kegiatan promosi, Disbudpar Sumsel sudah membuat atau menetapkan Branding, yang dilakukan pada 2016. Kemudian, advertising disetiap event, dan travel market. Seperti adanya Bali Beyond Travel Fair (BBTF) akan dengan mudah menemukan ratusan buyer dari dalam dan luar negeri.

"Sepanjang 2016, telah banyak event diselenggarakan di Sumsel, baik standar nasional ataupun internasional. Mudah-mudahan, (Pemprov Sumsel) tetap konsisten dalam penyelenggaraan event. Ini akan banyak mendatangkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sehingga, nantinya (Sumsel) dikenal sebagai Culture Event atau Sport Event lainnya," ujarnya. [adv]


Baca juga:


Komentar Pembaca






Berita Populer

Paripurna Istimewa HUT Kota Pagaralam Khidmat Dan Sukses
Pasar Murah Bantu Masyarakat Dapatkan Sembako