Kalau Upahnya Hanya Rp20 Ribu, Mendingan Jadi Pengusaha

Ekonomi  SABTU, 14 FEBRUARI 2015 , 11:54:00 WIB

Kalau Upahnya Hanya Rp20 Ribu, Mendingan Jadi Pengusaha

NET

RMOL. Jika dilihat dari pekerjaannya, menenun songket bukanlah perkara yang mudah. Butuh keterampilan khusus untuk mengkomposisikan detail warna yang rumit agar bisa menghasilkan tenunan kain songket yang bagus dan menarik.

 

Ternyata, hasil jerih payah penenun untuk satu lembar kain songket khas Sumatera Selatan (Sumsel) itu hanya dihargai upah sebesar Rp 20 ribu. Padahal untuk menenun, kerap kali membutuhkan kesabaran karena lamanya waktu pengerjaan.

 

Berangkat dari keterpurukan nasib inilah banyaknya penenun kain songket yang meninggalkan tradisi budaya khas Sumsel dan memilih bekerja di tempat lain. Sehingga jumlah penenun kain songket semakin berkurang dan langka.

 

Namun dalam waktu dekat, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tekstil dibawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel akan merangkul para penenun untuk bisa membentuk jiwa enterpreneur sendiri.

 

Salah satunya dengan memproduksi benang tenun yang bermutu dan berkualitas, sehingga para penenun tidak hanya mengambil upah jasa tenun saja, namun juga bisa membuka usaha sendiri.

 

"Untuk program produksi pewarnaan benang ini, kita nanti ada sosialisasi UPT Focus Group Discussion (FGD) ke pengrajin. Jadi nanti, selain memproduksi kualitas benang tenun yang bagus, kita juga mendorong jumlah enterpreuner kain tenun songket dan blongsong agar semakin banyak. Tentunya harga benang ini akan dijual lebih murah dari pasaran, sehingga terjangkau bagi perajin tenun untuk mendapatkannya," ujar Aprian Joni, Kepala Bidang (Kabid) UPTN Balai Pengembangan Industri Disperindag Sumsel, melalui Manager Operasional UPT Kemasan, Disperindag Sumsel, M Rizal Umar, Sabtu (14/2).

 

Dalam sekali produksi pewarnaan, mesin tekstil akan memproduksi 30 kilogram benang dengan durasi proses sekitar 7 jam. Selain itu, produksi pewarnaan benang ini juga untuk menekan pencemaran air yang sering dilakukan pengrajin benang celup di Palembang.

 

Pasalnya, limbah dari pewarnaan yang mengandung obat kimia sering dibuang di drainase rumah. Bahkan, pencemaran ini juga terjadi di sungai musi, karena dalam pasca pencelupan warna, benang dibilas di sungai musi.

 

“Kualitas benang dari pengrajin benang celup kurang bagus, karena hanya dalam
waktu 2 jam saja sudah selesai. Sedangkan disini, ada hitungannya berapa lama dicelup untuk menghasilkan kualitas yang bagus. Limbah dari pencelupan benang juga mencemarkan lingkungan, untuk itu akan diproduksi disini, ada Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sehingga tidak mencemari lingkungan,” paparnya.[nef]


Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

RABU, 26 JUNI 2019 , 17:10:00

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

SELASA, 25 JUNI 2019 , 23:44:00